GTK Kemenag Undang 25 Guru Susun Buku Panduan BK dan Pendidikan Karakter di Madrasah


SURABAYA, Abasrin.com--Pendidikan sesungguhnya adalah pembentukan karakter, bukan hanya transfer ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Pendis Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Kamarrudin Amin, M.A., saat membuka workshop Penyusunan Program GTK Madrasah Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Jumat (7/9) di Hotel Swiss Belinn, Surabaya.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa moral berkontribusi pada kesuksesan seseorang.“Kecerdasan tidaklah cukup. Orang sukses karena kecerdasan dan karakternya,” jelas Kamarrudin Amin. Lebih lanjut ia mencontohkan tiga karakter yang diajarkan di Jepang. Ajaran moral di Jepang adalah bangga menjadi diri  sendiri, membantu orang lain, serta menghargai alam. Oleh karena itu, tugas guru adalah menerjemahkan nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.

Sementara itu, Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. selaku narasumber menjelaskan tantangan guru madrasah pada era industri. Era industri terbagi menjadi empat, yaitu 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0. Pada era industri 1.0 ditemukan mesin uap yang memunculkan jalur transportasi sehingga terjadi mobilitas vertikal dan horizontal. Pada era industri 2.0 listrik sudah ditemukan, maka berkembanglah teknologi. Sedangkan pada era industri 3.0 adalah era ditemukannya komputer. Selanjutnya  era tersebut berkembang menjadi era 4.0 yang merupakan era digital. Era di mana teknologi berkembang dengan luar biasa.

“Dari era-era industri tersebut, yang mengkhawatirkan adalah berkembangnya artificial intelegent (AI),  yakni lahirnya robot-robot yang menggantikan manusia,” ujar pria kelahiran Tuban tersebut.

Dijelaskannya pula, bahwa untuk menghadapi artificial intelegen, kita  bisa mencontoh apa yang disampaikan Jack Ma. Jack Ma memberikan solusi dengan mencari keunikan manusia serta mengajarkan nilai, kepercayaan, berpikir kritis, team work, serta peduli kepada yang lain. Di samping itu, guru hendaknya bisa menghadapi tantangan untuk mengajarkan empat intelegensi sekaligus. Keempat intelegensi tersebut adalah intelegensi rasional, emosi, sosial, dan spiritual. Intelegensi-intelegensi tersebut pada praktiknya sudah dikembangkan di madrasah.

Sebelumnya, Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Syamsul Bahri, M.Pd.I., berpesan kepada peserta workshop untuk membuat panduan yang praktis dan sederhana dengan mengedepankan iman dan takwa. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Kabag TU GTK Madrasah Kemenag RI, Sidik Sisdiyanto. Sidik menerangkan bahwa dari workshop ini akan dihasilkan dua buku panduan. Adapun buku-buku yang dimaksud merupakan buku Panduan Bimbingan Konseling dan buku Panduan Penguatan Pendidikan Karakter.

Direktur GTK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. juga menyempatkan hadir dalam workshop tersebut. Sabtu (8/9), guru besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut memberikan pengarahan kepada peserta workshop akan pentingnya peran Bimbingan Konseling  (BK) di madrasah. Guru BK adalah public relation madrasah, sehingga diharapkan dapat membuat jejaring baik  level nasional maupun internasional. Di samping itu, guru BK juga mempunyai tantangan. Tantangan tersebut adalah bagaimana agar anak-anak tidak keluar dari spirit kebangsaan.

Acara yang direcanakan berakhir Minggu (9/9) itu dihadiri oleh 25 guru MI, MTs, dan MA DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. (sis)
Previous Post
Next Post
Related Posts