Lowongan Guru Kelas dan Guru Alquran di SDIT Ar Raihan Bantul


SDIT Ar Raihan Bantul membuka kesempatan untuk bergabung dan berkarya di bidang pendidikan sebagai:
  1. Guru kelas
  2. Guru Alquran

Syarat
  1. Beragama Islam
  2. Berkepribadian Islami
  3. Sehat jasmani dan rohani
  4. Usia maksimal 35 tahun per Juli 2017
  5. Memiliki dedikasi tinggi
  6. Dapat membaca Alquran
  7. Bersedia mengikuti pembinaan
  8. Untuk guru kelas minimal hafal juz 30 dan untuk guru Alquran minimal 5 juz

Cara mendaftar

Menyerahkan surat lamaran secara langsung, ditujukan kepada Ketua Yayasan Ar Raihan dengan lampiran sebagai berikut.
  1. Fotokopi ijazah terakhir dan transkrip nilai
  2. Menerahkan surat lamaran ditulis tangan
  3. Fotokopi KTP sebanyak 1 lembar
  4. Pasfoto berwarna 3 x 4 sebanyak 2 lembar
  5. Fotokopi sertifikat pendukung jika ada
  6. Surat keterangan sehat dari dokter
  7. Surat keterangan kelakuan baik

Waktu pendaftaran
Pendaftaran mulai 9 s.d. 25 November 2018 pukul 08.00-14.00.
Surat lamaran langsung diantar ke Kantor Yayasan Ar Raihan
Kweden, Trirenggo, Bantul

Kontak
Purna: 089687119280

Guru madrasah Bantul terbitkan buku Ujian Nasional


Bantul, Abasrin.com--Empat guru madrasah asal Bantul menerbitkan buku Ujian Nasional. Buku bertajuk Solusi Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMP/MTs Edisi 2018/2019 itu ditulis oleh Siska Yuniati, Rusmantara, Rina Harwati, dan Septy Andari Putri.

Dihubungi secara khusus, Siska Yuniati mengungkapkan, buku yang diterbitkan Magnum Pustaka tersebut berisi empat hal, yaitu pendalaman materi, soal dan pembahasan, latihan, serta glosarium.

"Buku yang kami tulis berisi empat bagian utama. Pertama, bagian pendalaman materi. Bagian ini berisi teori-teori atau materi yang dimungkinkan diujikan dalam bentuk soal-soal pada Ujian Nasional 2018/2019," jelas Siska.

"Pada bagian selanjutnya, kami sajikan contoh-contoh soal beserta pembahasan. Di bagian ini, kami menggunakan soal-soal Ujian Nasional tahun lalu. Berikutnya ada lima paket latihan soal. Kemudian, ditutup glosarium," lanjut Siska.

Guru MTs Negeri 3 Bantul itu menjelaskan, glosarium penting ada untuk membantu siswa berlatih memahami makna kata. Menurutnya, seorang siswa bisa menjawab soal dengan baik jika dirinya sudah memahami makna kata-kata yang dimunculkan dalam soal-soal.

Siska mengungkapkan, dirinya menulis buku bersama tiga rekan sesama guru, yaitu Rusmantara, Rina Harwati, dan Septy Andari Putri.

"Pak Rusmantara cukup lama berkecimpung atau mengurusi materi-materi persiapan Ujian Nasional, begitu juga dengan Ibu Rina Harwati dan Ibu Septy Andari Putri," papar Siska.

Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis itu memaparkan, dua rekannya, yaitu Rina Harwati dan Septy Andari Putri bahkan tahun ini menjadi penulis soal nasional Puspendik Balitbang Kemdikbud.

Siska berharap, hadirnya buku Solusi Ujian Nasional ini dapat membantu guru-guru, khususnya siswa dalam bersiap mengikuti Ujian Nasional tahun 2018/2019.

"Ini adalah tugas kami sebagai guru kelas IX. Semoga dapat membantu para siswa bersiap mengikuti Ujian Nasional," tutup Siska. (*)

Perjuangan Senopati Antarkan Tiara Juara Lomba Penulisan Cerpen Kesejarahan

Tiara Putri Iskandini (kanan) dan Siska Yuniati (kiri)
Bantul, Abasrin.com--“Setelah melihat alam, data, hendaknya siswa dapat menuliskannya. Dengan demikian akan tumbuh rasa cinta kepada sejarah dan budaya sendiri." Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto, S.H., M.M., dalam acara Penyerahan Penghargaan Lomba Penulisan Cerpen Kesejarahan Tingkat SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Bantul Tahun 2018, Senin (10/9), bertempat di ruang rapat Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul.

Hal itu pula yang dilakukan siswa MTs Negeri 3 Bantul, Tiara Putri Iskandini. Tiara, sapaan akrab siswa kelas IX tersebut, menuliskan perjuangan Panembahan Senapati untuk Mataram.  Sebelumnya ia banyak membaca dan mencari informasi akan pengorbanan raja pertama Mataram tersebut. Cerpen “Teruntuk Mataram dari Panembahan Senapati” yang ditulisnya berhasil menyabet juara 3 dalam perlombaan tersebut.

“Senang sekali dengan hasilnya. Kalau mau mencoba ternyata bisa,” kata Tiara. Rasa senang dan syukur diungkapkannya lantaran ini untuk pertama kalinya ia mengikuti perlombaan menulis.

Kepala MTs Negeri 3 Bantul, Sugiyono, S.Pd., sangat mengapresiasi capaian tersebut. Sugiyono mengharapkan apa telah diperoleh akan menjadi penyemangat siswa lainnya. “Semoga bisa memotivasi yang lain dan di masa mendatang semakin banyak prestasi,” ungkapnya.

Kegiatan lomba tersebut dilaksanakan pada Minggu (26/8) lalu di SMP Negeri 1 Bantul. Dengan durasi 2,5 jam, siswa menuliskan cerita berdasarkan tema pilihan yang disediakan oleh panitia. Tema untuk jenjang SMP/MTs adalah Perjuangan Diponegoro, Perjuangan Sultan Agung, dan Perjuangan Panembahan Senapati. Sementara untuk jenjang SD/MI mengambil tema Situs Mangir, Situs Kotagede,serta Situs Plered. Adapun dewan juri lomba terdiri atas perwakilan MGMP Sejarah, MSI, praktisi sastra, Dikpora Bantul, dan Disbud Bantul.

Ketua juri lomba jenjang SMP/MTs, Albertus Sartono, S.S., menyatakan bahwa ada beberapa catatan dalam karya-karya peserta lomba. Di antara kelemahan naskah adalah sebagai berikut. Pertama, penggunaan bahasa serta penulisan yang belum sesuai dengan PUEBI. Kedua, banyak cerita yang hanya menempelkan teks sejarah pada karya mereka. Ketiga, kecermatan penguasaan mengamati sejarah.

Selain itu, juri lomba jenjang SD/MI, Umi Kulsum, menggarisbawahi bahwa banyak karya siswa berupa laporan, bukan cerpen. “Idealnya cerpen ada tokoh sentralnya,” jelas penerima penghargaan Hari Puisi Indonesia 2017 tersebut. Oleh karenanya, jika memungkinkan sebaiknya sebelum perlombaan diadakan terlebih dahulu kegiatan workshop penulisan cerpen bersejarah.

Adapun hasil perlombaan tersebut masing-masing jenjang diambil juara 1, 2, 3, harapan 1, 2,  dan lima karya pilihan. Untuk juara jenjang SMP/MTs diraih oleh SMP N 2 Bantul, SMP N 3 Bantul, MTs N 3 Bantul, SMP N 2 Bantul, dan SMP N 1 Kasihan. Sementara itu, karya pilihan diraih oleh SMP Muh. 1 Bambanglipuro, SMP N 3 Bantul, SMP N 3 Imogiri, SMP N 1 Bantul, dan MTs N 4 Bantul.

Juara untuk jenjang SD/MI disabet oleh SD 1 Bantul, SD 1 Bantul, SDIT Ar Raihan, SDIT Salsabila Jetis, dan SD Unggulan Muhammadyah Kretek. Adapun lima karya pilihan masing-masing jatuh pada peserta dari SD Negeri Ngablak 4 Sitimulyo Piyungan, SD Muhammadyah Karangturi Banguntapan, SD puluhan Kemusuk Argomulyo, SD IT Ar-Raihan, serta SD Negeri Sutran Kadibeso Sabdodadi.

Masing-masing pemenang mendapatkan penghargaan berupa uang pembinaan, trofi, serta piagam penghargaan. Sedangkan untuk karya terpilih mendapat piala beserta piagam penghargaam. Di samping itu, kedua puluh karya juara dan karya pilihan akan dibukukan oleh panitia. (sis)

GTK Kemenag Undang 25 Guru Susun Buku Panduan BK dan Pendidikan Karakter di Madrasah


SURABAYA, Abasrin.com--Pendidikan sesungguhnya adalah pembentukan karakter, bukan hanya transfer ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Pendis Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Kamarrudin Amin, M.A., saat membuka workshop Penyusunan Program GTK Madrasah Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Jumat (7/9) di Hotel Swiss Belinn, Surabaya.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa moral berkontribusi pada kesuksesan seseorang.“Kecerdasan tidaklah cukup. Orang sukses karena kecerdasan dan karakternya,” jelas Kamarrudin Amin. Lebih lanjut ia mencontohkan tiga karakter yang diajarkan di Jepang. Ajaran moral di Jepang adalah bangga menjadi diri  sendiri, membantu orang lain, serta menghargai alam. Oleh karena itu, tugas guru adalah menerjemahkan nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.

Sementara itu, Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. selaku narasumber menjelaskan tantangan guru madrasah pada era industri. Era industri terbagi menjadi empat, yaitu 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0. Pada era industri 1.0 ditemukan mesin uap yang memunculkan jalur transportasi sehingga terjadi mobilitas vertikal dan horizontal. Pada era industri 2.0 listrik sudah ditemukan, maka berkembanglah teknologi. Sedangkan pada era industri 3.0 adalah era ditemukannya komputer. Selanjutnya  era tersebut berkembang menjadi era 4.0 yang merupakan era digital. Era di mana teknologi berkembang dengan luar biasa.

“Dari era-era industri tersebut, yang mengkhawatirkan adalah berkembangnya artificial intelegent (AI),  yakni lahirnya robot-robot yang menggantikan manusia,” ujar pria kelahiran Tuban tersebut.

Dijelaskannya pula, bahwa untuk menghadapi artificial intelegen, kita  bisa mencontoh apa yang disampaikan Jack Ma. Jack Ma memberikan solusi dengan mencari keunikan manusia serta mengajarkan nilai, kepercayaan, berpikir kritis, team work, serta peduli kepada yang lain. Di samping itu, guru hendaknya bisa menghadapi tantangan untuk mengajarkan empat intelegensi sekaligus. Keempat intelegensi tersebut adalah intelegensi rasional, emosi, sosial, dan spiritual. Intelegensi-intelegensi tersebut pada praktiknya sudah dikembangkan di madrasah.

Sebelumnya, Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Syamsul Bahri, M.Pd.I., berpesan kepada peserta workshop untuk membuat panduan yang praktis dan sederhana dengan mengedepankan iman dan takwa. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Kabag TU GTK Madrasah Kemenag RI, Sidik Sisdiyanto. Sidik menerangkan bahwa dari workshop ini akan dihasilkan dua buku panduan. Adapun buku-buku yang dimaksud merupakan buku Panduan Bimbingan Konseling dan buku Panduan Penguatan Pendidikan Karakter.

Direktur GTK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. juga menyempatkan hadir dalam workshop tersebut. Sabtu (8/9), guru besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut memberikan pengarahan kepada peserta workshop akan pentingnya peran Bimbingan Konseling  (BK) di madrasah. Guru BK adalah public relation madrasah, sehingga diharapkan dapat membuat jejaring baik  level nasional maupun internasional. Di samping itu, guru BK juga mempunyai tantangan. Tantangan tersebut adalah bagaimana agar anak-anak tidak keluar dari spirit kebangsaan.

Acara yang direcanakan berakhir Minggu (9/9) itu dihadiri oleh 25 guru MI, MTs, dan MA DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. (sis)

Mapel Baru Informatika, Sulitkah?

Mampuono, Sekjen IGI/Foto: Sabjan Badio
Oleh Mampuono, Sekjen Ikatan Guru Indonesia

Nasib mata pelajaran (mapel) TIK yang selama ini terpaksa "dilengserkan" dari posisinya dari dalam kurikulum 2013 mulai menemui titik terang. Polemik hilangnya materi pelajaran yang diampu oleh banyak guru dan menyebabkan mereka terpaksa 'non job" karena tugasnya berubah menjadi guru BK TIK sebentar lagi mudah-mudahan akan segera terselesaikan.

Seingat saya, mapel TIK yang dulu seolah tiba-tiba muncul dan kemudian tiba-tiba menghilang itu menurut sejarahnya, ada lalu tiada, semus karena kebutuhan yang menyesuaikan perubahan jaman. Pada tahun 2006 ketika pemerintah meluncurkan kurikulum yang bernama KTSP 2006, kita memiliki kebutuhan tinggi agar secepatnya bisa mengoperasikan alat-alat digital, terutama komputer dan laptop. Oleh karenanya secepatnya para siswa harus disiapkan untuk bisa menguasai itu semua. Mau tidak mau kurikulumlah yang dapat menjadi alat yang paling efektif untuk membelajarkan masyarakat melalui para siswa di sekolah. Ini karena nantinya merekalah yang akan jadi anggota masyarakat.

Saat itu, orang dianggap perlu belajar teori-teori tentang apa itu komputer, sejarahnya, bagian-bagiannya, dan cara mengoperasikannya. Bahkan konten pembelajaran berisi sampai pada nama komponen-komponen dari komputer dan bagaimana cara menghidupkan dan mematikannya. Maka muncullah mapel TIK yang dianggap sangat penting dan unggulan saat itu.

Dunia yang begitu cepat berubah dan kompetensi digital masyarakat yang terus meningkat menyebabkan mapel TIK yang dianggap hanya berisi kemampuan "penjet tombol" itu harus rela untuk "lengser keprabon". Orang dianggap tidak lagi butuh kursus-kursus komputer dasar seperti menghidupkan dan mematikan komputer, menghubungkannya dengan sound, system atau LCD, serta mengoperasikan software-software office sebagai ganti menulis di mesin ketik dan membuat presentasi presentasi sederhana pengganti OHP.

Semakin kesini orang menjadi semakin familiar dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer dengan segala macam operasi digitalnya. Maka dengan sendirinya pembelajaran komputer di sekolah yang disebut sebagai mapel TIK itu dengan resmi dihapuskan dari kurikulum 2013. Ini karena mapel TIK dianggap tidak lagi memberikan kontribusi yang cukup bagi perkembangan literasi digital para siswa sesuai tuntutan zaman.

Di era revolusi industri 4.0 ini kompetensi untuk berinteraksi dengan cyber system menuntut para pendidik untuk mempersiapkan anak didiknya berhadapan dengan dunia digital yang semakin rumit. Jika yang digunakan adalah mapel TIK paradigma lama, sudah dipastikan hasilnya akan sulit diharapkan.

Di era revolusi industri 4.0 ini para lulusan nantinya diharapkan bukan hanya menjadi pemakai teknologi informasi produk orang lain, tetapi mereka harus menjadi lebih produktif. Mereka harus bisa menghasilkan sendiri produk produk teknologi informasi mereka sendiri, bahkan menghasilkan temuan-temuan baru di bidang itu. Contoh mudahnya, pendidikan ketika kita harus bisa menghasilkan Nadiem Makarim -Nadiem Makarim (pendiri GOJEK) baru sebanyak mungkin sebagaimana Amerika Serikat menghasilkan Mark Zuckerberg pendiri Facebook atau Larry Page pendiri Google dan banyak lagi yang lainnya.

Terobosan Kemendikbud dalam memunculkan mapel INFORMATIKA ini patut diacungi jempol. Konten dari Mapel Informatika sebagai wujud mapel TIK masa kini adalah materi STEM-C (Science Technology Engineering Mathematics and Computational Thinking). Dengan mapel ini para siswa diajak untuk belajar tentang STEM Dan memulai berpikir terkomputerisasi yang terstruktur dan algiritmik. Dengan sendirinya mereka terbiasa berpikir orde tinggi (HOTS) sejak sedini mungkin dan ini sangat inline dengan Kurikulum 2013. Dengan STEM-C ini anak akan berinteraksi dengan computer science dan digital art mulai usia dini dengan cara-cara khusus yang mereka mudah memahaminya.

Saya dengan sponsor dari Eduspec tiga tahun lalu pernah belajar STEM and Computational Thinking selama seminggu. Pelatih kami adalah para mentor dari Singapura dan Malaysia, dua negara tetangga kita yang sudah mulai menerapkan STEM-C dalam sistem pendidikan mereka sejak beberapa tahun sebelumnya. Mereka mendapatkan ilmu mereka dari Amerika Serikat.

Ternyata belajar tentang STEM-C ini kurang lebih sama dengan belajar ilmu-ilmu yang lain. Beberapa rekan guru dan pengawas terlihat apriori dengan munculnya mapel INFORMATIKA ini. Belum terbiasanya mereka dengan penggunaan istilah programming, coding, algoritma, artifisial intelijen, robotik, cyber sistem, dan lain-lain menyebabkan mereka cenderung berpikir bahwa mapel ini akan sulit dan merepotkan saja.

Pada tulisan ini saya akan sedikit berbagi tentang pengalaman dalam mengimplementasikan STEM-C kepada anak-anak usia SD dan SMP yang ternyata membuat saya justeru berbesar hati. Pembelajaran coding yang dipermudah dengan coding semu (pseudocoding) pada awal pengenalan ternyata bisa dipelajari anak-anak dengan sangat menyenangkan. Mereka tinggal melakukan drag and drop untuk menuangkan gagasannya dalam coding setelah diajarkan tentang berpikir terstruktur dan algoritmik.

Pengalaman pertama mengimplementasikan STEM-C untuk anak-anak saya peroleh tiga tahun lalu. Waktu itu selesai mendapatkan pelatihan STEM-C di Jakarta tahun 2015, ilmunya segera saya ujicobakan untuk anak ketiga saya yang masih berumur 7 tahun. Davin, nama anak saya itu, dan ia baru lepas dari TK saat itu.

Sebagaimana anak-anak lain yang juga lahir sebagai digital natives, di usianya yang masih belia Davin terbiasa dengan peralatan digital seperti HP, tablet, dan komputer. Tetapi sesungguhnya ia anak yang biasa saja seperti anak-anak yang lain. Ia bukan sebagai anak yang memiliki kecerdasan sangat menonjol. Ia sangat suka dengan gambar dan gambar bergerak (animasi) di dalam layar digital.

Setelah saya ajari sambil bermain-main, dia ternyata bisa menerima materi STEM-C yang saya sampaikan dengan software Scratch. Software ini biasa digunakan untuk mengajarkan STEM-C di negara-negara maju yang sudah mengimplementasikannya.

Yang membuat saya berbesar hati, ternyata ia tidak mengalami banyak kesulitan tetapi justru menyukainya. Setelah tahu operasi-operasi dasar pseudocoding seringkali ia berinisiatif sendiri untuk membuka laptop dan membuat animasi dengan menggunakan perintah perintah logo dengan drag and drop di dalam aplikasi tersebut.

Saat itu hasil-hasil animasi terstruktur karya Davin bisa membuat siapapun berdecak kagum, termasuk saya sebagai orang tuanya yang tidak mengira bahwa ternyata computational thinking itu bisa menyentuh semua usia dan anak-anak normal dengan kemampuan biasa. Hasil karyanya sering saya tampilkan saat mengisi workshop atau seminar.

Pengalaman kedua adalah ketika saya bersama seorang rekan pelatih membimbing dua tim siswa kelas 7 SMP Al-Azhar Banyumanik Semarang untuk mengikuti lomba Augmented Reality dan Game Development tingkat ASEAN yang diselenggarakan oleh SEAMEO. Mereka masih berusia 13 tahun dan ternyata harus berhadapan dengan masing-masing 300 tim dari berbagai negara ASEAN yang usianya antara 13 sampai 19 tahun. Ini artinya mereka harus bersaing dengan sesama anak SMP, SLTA dan bahkan mahasiswa perguruan tinggi.

Keinginan pihak sekolah yang besar untuk mengujicoba kemampuan siswanya dikancah ASEAN menyebabkan mereka sangat bersemangat untuk mendatangkan pelatih dan membina dua tim tersebut. Kesungguhan para anggota tim untuk belajar dalam waktu singkat dan menguasai skill untuk membuat Game Edukasi dan Augmented Reality memang membuat kami berdecak kagum.

Ternyata dari mulai membuat karakter game dan objek-objek 3D ( tiga dimensi) sampai memberikan perintah dengan menggunakan pseudocoding, baik untuk game edukasi maupun Augmented Reality, anak-anak yang menjadi anggota tim tidak mengalami banyak kesulitan berarti. Bahkan mereka dengan senang hati bekerja dibawah deadline waktu yang sangat mepet untuk menyelesaikan karyanya. Software yang digunakan adalah Construct 2, Blender dan Unity 3D yang semuanya versi tidak berbayar.

Mereka masih berusia 13 tahun dan kedua tim yang masing-masing terdiri dari 3 orang tersebut ternyata bisa masuk ke final dan bersaing dengan para siswa SMK jurusan rekayasa perangkat lunak dan mahasiswa D3 Politeknik. Walaupun hasil akhirnya kedua tim hanya berhasil menjadi satu-satunya tim SMP yang berada di posisi 7 besar dan 13 besar ASEAN di antara tim finalis lain yang berasal dari SLTA dan perguruan tinggi, tetapi setidaknya para siswa SMP yang notabene usianya masih sangat belia ternyata tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk belajar STEM-C.

Inilah yang menyebabkan saya sangat optimis bahwa mapel INFORMATIKA nantinya akan menjadi jalan keluar yang baik untuk kita. Tidak hanya tentang para guru TIK yang akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan mereka lagi, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak kita bisa berpikir pada level HOTS, menjadi warga dunia yang sangat melek secara digital, sekaligus menjadi bangsa yang produktif dari sisi teknologi informasi yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa yang lain.

Untuk itu, guru TIK sekarang (baca INFORMATIKA) paradigma berpikirnya juga harus *disesuaikan*. Mapel TIK yang baru bukan lagi mata pelajaran *"penjet tombol"* tetapi adalah tentang ilmu komputer dengan segala perniknya. Jangan sampai mapel informatikanya dahsyat tetapi gurunya justru ketinggalan satu abad. Karena belum-belum sudah ada yang merasa kesulitan. Jangan ya 😍. Pelatihan yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kompetensi guru TIK ataupun guru lain yang diberi tugas mengajarkan mapel Informatika ini mutlak diperlukan yang sekaligus terukur dan terkontrol.

Untuk menyambut datangnya "anak kandung" baru Kurikulum di era revolusi industri 4. 0 yang bernama INFORMATIKA ini Ikatan Guru Indonesia (IGI) sedang menyiapkan sebuah kanal pelatihan baru yang bernama SAGUMACO atau Satu Guru Mahir Coding. Semoga langkah ini bisa mewarnai indahnya peningkatan kompetensi para guru Indonesia di bidang teknologi informasi.

Sugiyono: Maju-Mundurnya Sekolah atau Madrasah Bergantung Kepala

Prof. Dr. Sugiyono (tiga dari kiri) berfoto bersama pascapelantikan Kamad YAPPI Gubukrubuh (1/4).
Wonosari, Abasrin.com–Maju-mundurnya sebuah sekolah dan madrasah di tangan kepala sekolah atau kepala madrasah. Baik atau tidaknya sebuah sekolah atau madrasah, bergantung kepala sekolah atau kepala madrasahnya.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Sugiyono dalam sambutannya setelah serah-terima jabatan sekaligus pelantikan Kepala MAS YAPPI Gubukrubuh Gunungkidul, Minggu (1/4/2018).

Terkait usaha mememajukan sekolah atau madrasah itu, Sugiyono mendorong sekolah atau madrasah di lingkungan LP Ma’arif NU DI Yogyakarta untuk meningkatkan jumlah murid dan meningkatkan nilai akreditasi.

Masih menurut Sugiyono, untuk meningkatkan dua hal tersebut, sekolah atau madrasah perlu membangun image yang baik. Image yang baik dapat dibangun melalui berbagai cara, misalnya melalui prestasi dalam lomba-lomba guru atau siswa. Untuk membangun image, sekolah atau madrasah perlu menginformasikan kiprah lembaganya melalui media, baik koran maupun media digital.

Dalam mencapai tujuan tersebut, guru besar Fakultas Teknik UNY tersebut menilai kepala sekolah atau kepala madrasah tidak dapat bekerja sendiri. Keberhasilan juga sangat bergantung kepada bapak/ibu guru. Guru dipandang sebagai kunci sukses pembelajaran siswa.

Kepada guru dan karyawan, Sugiyono berpesan agar pengabdian yang sudah dilakukan dengan baik dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Dengan dukungan kepala madrasah, guru dan karyawan diharapkan untuk membuat madrasah memiliki keunggulan. Jika belum dapat unggul secara akademik, aspek keagamaannya dapat diunggulan.

Keunggulan itu menurut mantan dekan Fakultas Teknik UNY tersebut misalnya dapat dilihat dari semakin baiknya perilaku siswa. Keunggulan juga dapat dilihat dari jumlah hafalan Alquran siswa-siswinya.

“Menurut teori psikologi, orang-orang yang hafal Alquran adalah orang-orang yang luar biasa. Siswa hafal Alquran bisa masuk perguruan tinggi tertentu bebas tes,” papar Sugiyono.

Kepala MAS YAPPI yang dilantik adalah Kholis Muhajir, S.Ag., M.S.I. Muhajir dilantik setelah kepala madrasah yang lama, Drs. Maryanta menyelesaikan masa jabatannya sebagai kepala madrasah. Berita acara pelantikan dibacakan oleh Sekretaris LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Dr. Tadkiroatun Musfiroh.

Kepada kepala madrasah, Sugiyono berpesan untuk banyak membangun relasi dalam mengembangkan madrasah yang dipimpinnya. Selain itu, kepada madrasah diharapkan mengubah gaya kepemimpinan dari administrative leadership ke instructional leadership. Kepala madrasah dharapkan mengurangi sisi administratif, lebih kepada pembinaan pembelajaran.

Acara serah-terima jabatan sekaligus pelantikan yang diselenggarakan di Aula MAS YAPPI tersebut dihadiri oleh Penurus PWNU DI Yogyakarta (Dr. Arif Rohman), pembina LP Ma’arif NU DI Yogyakarta (Drs. H. Masharun Ghazalie, M.M.), para pengurus LP Ma’arif DI Yogyakarta, pengurus NU dan Ma’arif Gunungkidul, serta guru dan karyawan MAS YAPPI Gubukrubuh. (sab)