11 Des 2015

Korrie Layun Rampan: Selalu Ada Dayak dalam Karyanya

Dari kiri ke kanan: Siska Yuniati,
Korrie Layun Rampan , Evi Idawati, dan Ulfatin Ch.
Fotografer: Sabjan Badio
TANGGAL 1 November lalu, Reina Rampan mengunggah foto Korrie Layun Rampan, ayahnya, di Facebook. Sastrawan 63 tahun itu duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam. Alat oksigen menutupi sebagian wajahnya. Puluhan orang menaruh simpati dan empati kepada Korrie yang terbaring sakit. "Ya Allah, berilah segera sahabatku ini kesembuhan & kebugaran. Aamiin..," tulis novelis Nadjib Kartapati dalam kolom komentar.

Korrie dirawat di RS Islam, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, selama sebulan. Selama itu beberapa rekan sastrawan turut menengok, seperti penyair Taufik Ismail dan Nadjib Kartapati.

Korrie dipanggil Tuhan pada Kamis (19/11) sekitar pukul 07.55 WIB karena penyakit komplikasi diabetes, asam urat, paru-paru, dan jantung. Ia meninggalkan satu istri dan tujuh anak.

"Pas meninggal saya lagi mengurus obat. Ini menjadi penyesalan saya kenapa saya tidak mendampingi bapak pas beliau meninggal," ujar Reina ditemui kemarin di RS Cikini, tempat jenazah disemayamkan sebelum diberangkatkan ke Kutai Barat, Kalimantan Timur, Jumat (20/11) atau Sabtu (21/11) karena menunggu satu anaknya dari Australia. Di ruang duka RS Cikini itu, Hermiyana, istri Korrie, duduk di samping jenazah dengan tetap tabah.

Reina tidak menyangka ayahnya punya riwayat sakit jantung, meski pernah dinyatakan gejala sakit jantung beberapa tahun silam. "Ini kehendak Tuhan, kami pikir tidak sampai kena jantung. Bapak selalu tersenyum mesti sakit parah. Saya selalu bilang: 'Jika sudah keluar rumah sakit mau ajak bapak ke Ancol'. Sekarang hanya janji yang tidak mungkin terjadi," katanya. Menurut Reina, ayahnya sakit-sakitan sejak lama. Apalagi, kata dia, aktivitas Korrie cukup padat. "Bapak itu kalau nulis betah padahal lagi sakit," tuturnya. Terakhir, tulisan Korrie dimuat di Kompas pada 11 November lalu berjudul Pengarang dan Honorarium. Dalam artikelnya ini, ia mempertanyakan mengapa seringkali honor penulis selalu telat bahkan tak dibayarkan.

"Kalau dibandingkan dengan para pengarang di luar negeri (Eropa dan Amerika), seharusnya saya hidup mewah. Saya telah menulis 357 buku..." tulisnya.

"Akan tetapi, karena honor buku-buku saya mengalami banyak kendala, saya hidup sangat sederhana. Terakhir ini saya terbantu karena sejak 2013 sampai kini Pemerintah Daerah Kutai Barat menyubsidi saya untuk menulis buku-buku berwarna lokal yang memuat kearifan lokal."

Novelis Pipiet Senja memiliki pengalaman tak terlupakan dengan Korrie. Saat itu Korrie mengabarkan novelet Pipiet bakal dimuat di Majalah Sarinah. Pipiet datang ke kantor redaksi untuk mengambil honor. Tidak disangka, Sarinah bangkrut karena krisis moneter 1998. "Lebih tak menyangka, beliau justru membantu saya (dengan uang pribadinya, red) untuk dana transfusi penyakit saya. Momen itu menjadi kenangan terindah yang tidak akan pernah saya lupakan," ucap penulis Jejak Cinta Sevilla. Bagi Pipiet, Korrie adalah seseorang yang humble.

Terjun ke Politik

Korrie Layun Rampan lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953 dari pasangan Paulus Rampan- Martha Renihay Edau Rampan. Korrie lama tinggal di Yogyakarta dan aktif di Persada Studi klub, klub sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi.

Pada 1978 ia hijrah ke Jakarta menjadi wartawan dan editor buku. Ia juga menjadi penyair RRI dan TVRI Studio Pusat. Di dunia jurnalistik, ia pernah menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Pada Maret 2001, ia memimpin Koran Sintawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Pada 2004-2009, Korrie sempat terjun ke dunia politik. Ia menjadi anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat dan menjadi ketua Komisi I. Aktivitasnya menulis pun tak surut. Reina mengatakan, sejak terjun politik ayahnya mulai sakit-sakitan. "Mungkin banyak pikiran, soalnya bapak pernah bilang ia tidak mau terlibat korupsi berjamaah. Makanya dia berhenti di politik," kata Reina, anak ketiga Korrie.

Korrie dikenal luas setelah novel Upacara menyabet sayembara sastra yang digelar Dewan Kesenian Jakarta. Ia mendapat hadiah Rp 200 ribu untuk novel yang dikerjakan selama tiga tahun itu. Korrie identik dengan cerita-cerita kekayaan lokal, terutama etnis Dayak, leluhurnya. Ia menggali banyak kisah tentah tanah leluhurnya.

Novelnya Api Awan Asap meraih Hadiah ketiga Sayembara Mengarang Roman DKJ 1998. Cerita Cuaca di Atas Gunung dan Lembah dan Manusia Langit meraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdiknas tahun 1985 dan 1999. Banyak buku yang dihasilkannya baik fiksi maupun non-fiksi. Dialah yang menyusun Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia.

Sebelum meninggal masih banyak naskah buku yang belum diselesaikannya. "Buku yang belum selesai masih kisaran 100 buku," tutur Reina. Buku terakhir Korrie adalah 80 Sajak Puncak, Kamus Lima Bahasa, dan Pantun dan Peribahasa dalam Bahasa Dayak Benuaq. "Selalu ada Dayak dalam karyanya. Itulah beliau tidak pernah melupakan asalnya," katanya. Selamat jalan Pak Korrie...

Reportase: Adinda Pryanka | Wahyu Nugroho | Andi Nugroho
Editor: Moch. Jamil
Sumber: Harian Nasional