6 Sep 2016

Soeparno: Jurnalis Perlu Baca Sastra

Jayadi S. Adhy menyampaikan materi
pada acara Bimtek Pengelola TIK Kanwil Kemenag DIY (31/8).
Bantul (MTs Negeri Giriloyo)--“Selain harus dong, paham berita, seorang jurnalis perlu membaca karya sastra”.

Pernyataan tersebut disampaikan Soeparno S. Adhy, wartawan senior SKH Kedaulatan Rakyat di Kanwil Kemenag DIY. Dalam acara Bimbingan Pengelola TIK Tahun 2016 , Rabu (31/8), Soeparno menjelaskan bahwa agar komunikatif, wartawan harus menuangkan berita dalam gaya bahasa yang menawan. Untuk itu dibutuhkan latihan terus-menerus serta banyak belajar dari orang lain dengan banyak membaca.

“Biasanya, wartawan yang pandai menghadirkan suasana semacam itu (bahasa komunikatif-red) adalah mereka yang gemar mambaca buku-buku yang bernilai sastra,” imbuh pria penulis antologi puisi Saksi Situasi itu.

Di samping hal tersebut, sebuah berita harus mudah dipahami, yaitu dengan menggunakan kalimat yang sederhana, lancar, dan bahasa yang tidak muluk-muluk. Kendati demikian, tetap harus mengedepankan kejelian penggunaan kata-kata baku.

Hal demikian sejalan dengan apa yang disampaikan Kakanwil Kemenag DIY, Prof. H. Nizar Ali, M.Ag. Dalam sambutannya Kakanwil menyatakan bahwa segala berita atau informasi hendaknya dapat terus dipublikasi. Dengan terus mempublikasikan berita, harapannya masyarakat dapat lebih mengenal madrasah.

Selain Soeparno dan Prof. Nizar, hadir pula Diyah Hayu Rahmitasari, SIP, M.Coms. Perempuan yang kesehariannya menjadi dosen di Program Studi ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya ini menyampaikan pentingnya pemanfaatan media sosial. Sifat media sosial yang murah, mudah, cepat, dan efektif dapat dimanfaatkan untuk membangun reputasi sosial sebuah lembaga. Komunikasi dua arah antara lembaga dan masyarakat dapat dibangun dengan respons yang cepat.

“Jika ada pertanyaan, keluhan, apresiasi, sebaiknya lembaga cepat merespons agar reputasinya tetap terjaga,” ujar alumni Edith Cowan University itu.

Acara yang dipandu staf humas Kanwil kemenang DIY, Bramma Aji Putra tersebut berjalan “sersan” alias ‘serius namun santai’. Kendati diwarnai canda, para peserta antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kedua narasumber. Di akhir acara, para peserta bimtek mendapat tugas menghasilkan produk jurnalistik dari acara yang berlangsung pagi hingga siang hari tersebut. (sis)