3 Agt 2016

Kadis Dikmenof Tunggu Geliat Ikatan Guru Indonesia di Bantul

Peserta audiensi berfoto seusai acara.

BANTUL, news.abarin.com - Data hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 menunjukkan bahwa nilai UKG untuk guru usia 25 tahun ke bawah adalah 56,56 untuk laki-laki dan 58,16 untuk perempuan. Selanjutnya meningkat sampai usia 41-45 tahun, yakni 60,36 untuk laki-laki dan 58,72 untuk perempuan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sajan Badio ketika beraudiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Nonformal (Dinas Dikmenof) Kabupaten Bantul di Ruang Rapat Dinas Dikmenof (2/8) kemarin.

Lebih lanjut Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bantul itu mengemukakan, terjadi penurunan untuk guru berusia di atas 41-45 tahun. Nilai terendah menurut Sabjan diperoleh guru dengan usia 50-60 tahun.

"Data tersebut tidak boleh diterima begitu saja. Harus ada usaha untuk mengatasinya. Inilah di antara alasan keberadaan IGI, yakni turut berkontribusi dalam peningkatan kompetensi guru," ungkap Sabjan yang berbicara mewakili Ketua IGI Bantul yang berhalangan hadir karena sedang menjalani diklat calon kepala sekolah.

Diungkapkan lebih lanjut, terkait program peningkatan kompetensi guru itu, IGI telah menginisiasi program Satu Guru Satu Laptop (Sagusala). Oleh karena saat ini rata-rata guru sudah memiliki laptop, IGI kemudian mengembangkannya menjadi program Satu Guru Satu Tablet (Sagusatab). Selain itu, ada juga program Satu Guru Satu Inovasi (Sagusanov), Bersama IGI Bisa Android (Sagisandro), Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Indonesia Menulis, Gerakan Guru Melek Internet, dan lain-lain.

Sabjan Badio memaparkan keberadaan IGI Bantul
di hadapan Kepala Dinas Dikmenof Bantul, Masharun Ghazalie.
"Bahkan, di IGI Bantul, kita menggagas program satu guru satu naskah. Pada program ini, diharapkan guru-guru IGI memiliki tulisan, apapun bentuknya," jelas Sabjan. "Sementara itu, untuk program terdekat, IGI Bantul akan menyelenggarakan pelatihan pembuatan media pembelajaran," lanjutnya.

Turut serta dalam audiensi itu, Slamet Pujiono (Sekretaris), Maria Estri Putranti (Bendahara 1), Erninah Tjahajati (Bendahara 2), dan beberapa anggota IGI Bantul. Selain tim IGI Bantul, hadir pula perwakilan IGI Wilayah (Arifah Suryaningsih) dan IGI pusat (Harsoyo Supriadi dan Elyas).

Harsoyo mengungkapkan bahwa IGI lahir tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan organisasi lain, melainkan untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan.

"IGI tidak berdemo kepada pemerintah, tetapi kami mengambil wilayah peningkatan kompetensi guru yang menurut kami sangat penting bagi karier seorang guru," ungkap Harsoyo yang saat ini menjabat Wakil Sekjen IGI Pusat Bidang Regulasi.

Kepala Dikmenof Bantul, Masharun Ghazalie, menyambut baik kehadiran Ikatan Guru Indonesia di Bantul. Menurutnya, selama ini geliat organisai guru di tingkat sekolah menengah belum begitu terasa.

"Sumber daya manusia memiliki peranan penting dalam kehidupan. Seperti kita ketahui, posisi Indonesia saat ini tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Keberadaan IGI membawa harapan baru bagi dunia pendidikan, di antaranya dalam mengatasi kesenjangan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan," ungkap Masharun yang saat itu didampingi oleh Kabid Dikmenjur tersebut.

IGI diharapkan oleh Masharun untuk selalu punya target dan memiliki citra yang baik. Lebih lanjut Masharun berpesan bahwa dalam menjalankan perannya IGI Bantul dapat berkolaborasi dengan jejaring pendidikan dan birokrasi yang ada di Kabupaten Bantul.

Hal senada disampaikan oleh Kabid Dikmenjur Dikmenof Bantul, Sukarja. Menurutnya, ada cukup banyak organisasi di lingkungan Dinas Dikmenof Bantul, seperti MGMP, MKKS, K3SK, IGI diharapkan berkolaborasi dengan organisasi-organisasi tersebut.

Audiensi yang dilangsungkan pukul 13.00-15.00 WIB itu diakhiri dengan penyerahan dokumen organisasi IGI oleh Sekretaris IGI Bantul, Slamet Pujiono, kepada Kabid Dikmenjur Dinas Dikmenof Bantul. Selain itu, juga diserakan pula buku-buku karya guru IGI yang diterbitkan oleh Penerbit IGI. (sab)