31 Mei 2016

Sekjen IGI: Jika Sibuk Orang Bisa Menulis dengan Mulut, Membaca dengan Telinga

Mampuono Rasyidin menyampaikan materi di depan peserta
seminar nasional literasi Ikatan Guru Indonesia (29/5).
Yogyakarta, Abasrin.com--Kesibukan terkadang menjadikan manusia tidak memiliki waktu khusus untuk membaca. Mampuono mencontohkan kasusnya sendiri, sebagai mahasiswa doktoral hal biasa jika dia harus menerjemahkan teks-teks dari satu bahasa ke bahasa lain. Dia juga diharuskan membaca banyak literatur. Kesibukan seringkali membuat dua kewajiban itu sulit ditunaikan.

Untuk kasus demikian, Sekjen IGI itu menawarkan satu solusi yang bernama teknologi. Perkembangan tekonologi membuat data-data dapat ubah dari satu jenis ke jenis lain dengan mudah. Google Translate misalnya, pada awal perkembangannya program besutan Google ini dibuat untuk menerjemahkan teks ke teks, teks dalam sebuah bahasa ke teks dalam bahasa yang lain.

Perkembangan selanjutnya, Google Translate dapat mengubah suara ke teks dengan tetap mempertahankan fungsi penerjemahannya. Jadi, seorang pengguna Google Translate tidak harus menuliskan kata-kata yang akan diterjemahkan, melainkan dapat memilih fasilitas speak. Seseorang cukup mengucapkan kata-kata yang akan diterjemahkannya, Google Translate pun secara otomatis mengalihbahasakannya ke bahasa yang diinginkan dalam bentuk teks. Inilah yang menurut Mampuono menulis dengan mulut.

Hal tersebut disampaikan Mampuono dalam seminar "Membangun Budaya Literasi Menuju Guru Pembelajar" yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia wilayah dan daerah se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar yang juga dihadiri oleh Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim itu digelar Minggu (29/5) di SMK Negeri 4 Yogyakarta.

Lebih lanjut Mampuono mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi juga memberi kemudahan dalam membaca. Secara konvensional, untuk membaca manusia harus melihat teks secara langsung dan memindainya dengan mata (kadangkala disertai kerja artikulator). Keberadaan software Teks to Voice membuat manusia dengan mudah mengalihbentukkan data teks ke data suara. Dengan begitu, manusia dapat "membaca" sebuah buku atau naskah sambil tiduran, sambil berjalan, atau sambil melakukan berbagai aktivitas lain melalui pancaindra pendengar (telinga). Peristiwa ini dinamai oleh Mampuono sebagai membaca dengan telinga.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah itu juga menyampaikan bahwa teknologi saat ini juga telah merevolusi dunia penerbitan. Jika dahulu penerbitan memproduksi buku-buku dengan cara mencetaknya, saat ini penerbit memiliki alternatif yang murah bernama smartbook. Keberadaan smartbook ini memangkas biaya dan proses pencetakan sehingga dapat memurahkan harga buku.

Pada seminar sesi kedua itu, Mampuono tampil secara panel bersama penulis St. Kartono dan Slamet Riyanto dengan moderator Arifah Suryaningsih. Pada sesi pertama, panitia menghadirkan Staf Ahli Mendikbud Ananto Kusuma Seta, Kepala PPPPTK Seni Budaya Salamun, Direktur SEAMEO Gatot Hari P., perwakilan Ditjen GTK Maria Widiati, Pengurus IGI Pusat Muhammad Ramli Rahim dan Rusnanie. Sebagai pembicara kunci, panitia mengundang Sri Sultan Hamengku Buwono yang kehadirannya diwakili oleh Triana Purnamawati dari Disdikpora DI Yogyakarta. (sab)