16 Feb 2016

Jazir: Ormas Tak Rawat Umatnya Pengikut Aliran Sesat Meningkat

Dialog terkait Gafatar dan LGBT, foto: Kanwil Kemenag DIY
YOGYAKARTA, Abasrin.com ~ Meningkatnya pengikut aliran sesat disinyalir disebabkan ormas Islam tidak merawat umatnya dengan baik. Hal demikian disampaikan oleh tokoh masyarakat dari Jogokariyan, M. Jazir ASP, pada Rapat Koordinasi Pengurus Ormas Islam DIY yang digagas oleh Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama DIY (16/2).

Menurut Jazir, bentuk aliran sesat dapat berupa mengaku menjadi nabi, malaikat, bahkan menjadi tuhan. Untuk menangkal aliran sesat, ormas harus merawat umatnya, misalnya dengan mengajak mereka ke masjid.

“Untuk itu kami mengadakan gerakan mensholatkan orang hidup, yaitu mengajaknya untuk mau sholat ke masjid. Inilah cara merawat umat,” ungkap Jazir sebagaimana dikutip dari laman Kanwil Kemenag DI Yogyakarta,

Masih berdasarkan informasi dari Situs Kanwil Kemenag DI Yogyakarta, selain menghadirkan M. Jazir ASP, rapat yang diagendakan dalam rangka menyikapi fenomena terkini yang marak di masyarakat itu, juga menyertakan Sahiron (PWNU), Irfan S. Awwas (Majelis Mujahidin), dan M. Wiharto (PWM). Di antara isu terkini yang diangkat pada rapat tersebut adalah fenomena Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Menanggapi fenomena Gafatar dan LBGT itu, Sahiron meminta masyarakat untuk tidak mudah terpancing dengan berbagai pemeberitaan ataupun isu yang marak tentang kedua tema tersebut.

“Kita juga harus sadar dan jangan terpancing secara emosional sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Kita perlu menganalisa kritis apakah fenomena yang terjadi akhir-akhir ini merupakan rencana internasional," ungkap Sahiron

Hal berbeda disampaikan oleh Irfan S. Awwas. Menurutnya, fenomena Gafatar menuntut ketegasan pemerintah.

“MUI sudah memfatwakan Gafatar itu sesat dan menyesatkan, pertanyaannya apakah pemerintah meyakini fatwa MUI ini? Gafatar menolak jika dianggap sesat, oleh karena itu, adakanlah debat terbuka untuk membuktikannya,” tawar Irfan.

Sementara itu, dari sudut pandang anak dan generasi muda, Wiharto menyebutkan bahwa berbagai isu negatif yang muncul saat ini karena kita kurang menyapa anak-anak dan generasi muda dan memberi pemahaman kepada mereka. (and/sab)