26 Des 2015

Guru RA Ar Raihan Bantul Persembahkan Operet Kematian

BANTUL ~ Guru raudhatul athfal identik dengan keceriaan dan kegembiraan. Hal tersebut telah menjadi tuntutan profesional mereka sebagai pendidik kalangan prasekolah. Siapa sangka, Sabtu (19/12) malam lalu Guru RA Ar Raihan Bantul justru menampilkan operet kematian pada milad Yayasan Ar Raihan.

Dikisahkan, seorang ibu menghadapi sakaratul maut setelah pulang dari perjalanan. Pada saat itulah dia menyadari bahwa Tuhannya telah memberi begitu banyak kenikmatan, di antaranya suami yang baik dan anak-anak yang soleh. Tiba-tiba dia merasa kurang bersyukur.

Namun, semua sudah terlambat Tuhan telah mengirim malaikat maut untuk mengakhiri masanya di dunia. Sang Ibu meninggal dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Digambarkan, bagaimana sang ibu lari ketakutan dikejar-kejar bayangan hitam sembari merasakan kepedihan menyaksikan keluarga yang mencintainya bersedih mengantar kematiannya.

Begitulah gambaran singkat operet yang disutradarai oleh Rufiyati Ambar Ningrum tersebut. Operet yang berjudul “Episode Kehidupan” itu mendapat apresiasi dari hadirin yang berasal dari Pengurus Yayasan Ar Raihan, tokoh masyarakat, anggota DPRD DIY, serta guru dan karyawan pada unit-unit di lingkungan Ar Raihan. Suasana yang remang-remang membuat penampilan guru-guru RA Ar Raihan itu semakin memukau.

Dihubungi secara khusus, Bu Ningrung, demikian Rufiyati Ambar Ningrum biasa dipanggil, mengungkapkan bahwa bukan maksudnya menghadirkan kesedihan di tengah-tengah kemeriahan Milad Yayasan Ar Raihan.

“Kami diminta tampil memeriahkan Milad Yayasan Ar Raihan. Kami sengaja menyajikan operet kematian ini dengan maksud untuk mengingatkan semua kalangan bahwa kematian itu pasti. Oleh karena itu, sebelum saatnya tiba, semua orang hendaknya mengerti akan tugas-tugasnya, semua orang hendaknya bersyukur dengan apa yang telah diperolehnya,” jelas Bu Ningrum.

Dalam mementaskan operet “Episode Kehidupan” Bu Ningrum dibantu oleh Bu Ningrum, Anna Noor Rochyani, Runik Nuryani, Zukma Wijayanti, Ari Mariyani, Aniriya Rohmawati, Mulatun Ware Kinanthi, Suwarti, Budi Arni Setyowati, Arni, dan Untari.

Dihubungi terpisah, Kepala RA Ar Raihan menyampaikan bahwa menampilkan operet merupakan hal biasa bagi guru RA Ar Raihan. Dalam keseharian mereka demikian. Hanya saja, yang mengejutkan ternyata temanya kematian.

“Hal yang berbeda dari penampilan para guru adalah tema yang diusung. Dalam keseharian mereka senantiasa menyajikan keceriaan. Saya pada awalnya terkejut dengan tema yang diusung. Kendati demikian, saya mengapresiasinya, mereka telah menyajikan sebuah episode kehidupan yang pasti kita lalui namun sering dilupakan,” ungkap Bu Tari.

Pentas yang digelar di halaman Raudhatul Athfal Ar Raihan Kweden itu berlangsung dari pukul 18.00 hingga 23.30 WIB. Tidak hanya menghadirkan pentas seni, pihak penyelenggara yang berasal dari BPH Yayasan Ar Raihan juga menyampaikan apresiasi kepada guru, karyawan, dan pengurus yayasan yang berprestasi. (sb)