10 Okt 2015

Sabjan Badio: Saatnya Calon Desainer Belajar Menulis


KLATEN ~ Ada saatnya karya-karya para desainer dikupas dan dikritik. Ada waktunya aktivitas para desainer diteliti dan dibukukan. Akan tiba pula saatnya para desainer menuliskan teori-teori dan mewariskannya pada desainer-desainer baru. Untuk kepentingan tersebut, mau tidak mau seorang desainer harus memiliki kemampuan menulis.

Hal itu disampaikan Sabjan Badio di hadapan para siswa PKL (Praktik Kerja Lapangan) di Studi E & E Media Kreatif Kamis (8/10) lalu. Mentor kepenulisan E & E Media Kreatif tersebut berharap para siswa yang berasal dari SMK Bani Muslim Pati itu dapat serius belajar menulis agar memiliki nilai lebih di tengah persaingan usaha yang semakin hari semakin ketat. Menurut Sabjan, para calon desainer harus belajar menulis karena tidak ada yang lebih mengetahui dunia didesain melebihi para desainer itu sendiri. "Mereka harus menuliskan dunia mereka sendiri," jelas Sabjan.

Lebih jauh Sabjan Badio mengungkapkan, pada berbagai kesempatan dirinya menyaksikan kerja desainer banyak didikte yang di antaranya oleh mereka yang sama sekali tidak mengerti desain. Dosen bahasa Indonesia beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut bahkan merasa miris ketika sebuah karya yang didominasi oleh gambar hak cipta utamanya justru tidak dimiliki para desainer.

"Bayangkan, jika kalian memiliki kemampuan menulis, hak cipta sebuah karya akan dimiliki penuh oleh kalian. Kalian pun bisa berpromosi lebih baik, bisa membuat proposal kerja sama untuk pengembangan usaha. Lebih dari itu, kalian tidak perlu selalu bergantung kepada orang lain," papar Sabjan Badio.

Pernyataan Sabjan Badio tersebut diamini oleh Sudaryanto, pimpinan E & E Media Kreatif. Lembaga yang berlokasi di Dusun Brajan Kecamatan Prambanan itu memang diarahkan untuk mendidik para calon desainer yang juga berkemampuan menulis.

"Di sini, para siswa dituntut menjadi seniman yang sadar budaya. Karya-karya yang dihadirkan senantiasa mengangkat budaya setempat," jelas Sudaryanto. Lebih lanjut, Sudaryanto memaparkan, "Para siswa yang PKL di sini saya target untuk memiliki karya, di antaranya majalah. Nah, majalah tersebut akan berisi foto, karya desain, dan tulisan, yang semuanya dirancang dan dikerjakan oleh para siswa sendiri."

Mantan manajer desain sebuah perusahaan berskala nasional tersebut mengaku khawatir melihat pola PKL yang selama ini dialami para siswa. "Sebagian instansi tidak memperlakukan siswa PKL sesuai porsinya, terkadang siswa justru dituntut mengerjakan wilayah administratif sehingga selama PKL kemampuan seni mereka tidak berkembang."

Masih menurut Sudaryanto, siswa PKL asal SMK Bani Muslim Pati itu merupakan angkatan pertama yang dididiknya pada semester ini. Saat ini, Sudaryanto juga sudah bersiap menunggu kedatangan siswa-siswa lain, baik yang berasal dari Pulau Jawa maupun luar Jawa.

"Semester ini saya memiliki kontrak dengan beberapa sekolah dari Jawa dan luar Jawa. Saya berharap dapat mendidik mereka secara maksimal, sehingga selepas PKL nanti mereka memiliki pengalaman empiris sebagai seorang calon pekerja seni," tutupnya. [sy]