29 Sep 2015

Ma’arif DIY Tingkatkan Kapasitas Penulisan Ilmiah Guru SMP-MTs


LP Maarif NU DI Yogyakarta memantau dan mengevaluasi pelatihan menulis karya ilmiah bagi guru-guru SMP-MTs di Gedung PCNU Bantul, Senin (28/9) pagi. Evaluasi yang berlangsung pukul 09.00 hingga pukul 12.00 tersebut merupakan rangkaian pelatihan penulisan karya ilmiah yang diselenggarakan LP Ma'arif NU Yogyakarta yang didukung Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud.

“Seorang guru wajib menguasai penulisan karya ilmiah. Hal ini penting bagi perjalanan karier seorang guru,” kata pengurus Maarif NU Yogyakarta Bambang Sulistya di Gedung PCNU Bantul, Senin (28/9).

Menurut Bambang, dalam aturan kepegawaian yang baru, karya ilmiah wajib dimiliki oleh guru.

Hal senada disampaikan Ketua LP Ma'arif Yogyakarta Masharun Ghazalie. Menurut Masharun yang juga berprofesi sebagai Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Nonformal Bantul, pihak Ma'arif Yogyakarta berkomitmen meningkatkan kompetensi guru dalam menulis karya ilmiah.

"Pelaksananaan pelatihan penulisan karya ilmiah ini merupakan bentuk komitmen kami," ungkap Masharun di sela-sela pelaksanaan bimbingan teknis.

Sebelumnya, seratus peserta pelatihan yang berasal dari lima provinsi telah mendapatkan pelatihan penelitian tindakan kelas di University Hotel Yogyakarta pada Ahad-Selasa (23-25/8).

Pada pertemuan pertama para guru diundang oleh panitia. Sementara pada proses pemantauan dan evaluasi, panitia beserta pembimbing turun ke lapangan untuk membantu para guru mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Salah seorang pendamping, DR Sutopo, mengungkapkan bahwa permasalahan yang dihadapi guru sifatnya beragam. Secara umum, dosen Fakultas Teknik UNY itu mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas belum dilaksanakan secara rutin oleh guru.

"Jika penelitian tindakan kelas telah menjadi kebiasaan, saya yakin aktivitas meneliti ini akan dapat dijalankan dengan mudah oleh para guru," kata Sutopo.

Salah seorang peserta pelatihan, Kodarilah, membenarkan pernyataan Sutopo. "Kendati masih mengalami berbagai kesulitan, saya sangat apresiatif atas adanya monitoring dan evaluasi (monev) ini. Monev ini menjadi wadah bagi kami untuk bertanya kepada para ahli," tutur Kodarilah.

Setelah monitoring ke Bantul pagi-siang, tim PW Ma’arif NU melanjutkan monitoring ke Sleman. Tim Sleman dipimpinan DR Tadkiroatun Musfiroh disertai Atik Sunaryati dan Sabjan Badio. Tim ini bertugas beraudiensi dengan peserta Sleman di SMP Diponegoro Depok. (maarifdiy.com)